Renungan

Monday, September 6, 2010

Penentuan dan Penetapan Awal Ramadhan, Awal Syawal dan Awal Dzulhijjah dan Awal Bulan-Bulan Hijriyyah

Segala puji hanya bagi Allah SWT, Tuhan empunya sekalian Alam, Tiada Ia berhajat kepada selain-Nya, malah selain-Nya lah yang berhajat kepada-Nya. Selawat dan salam semoga dilimpahkan Allah SWT ke atas junjungan kita Sayyidina Nabi Muhammad SAW (Ya Allah tempatkan baginda di tempat yang terpuji sepertimana yang Kau janjikan Amin) Beserta Ahlulbayt dan Para Sahabat R.anhum yang mulia lagi mengerah keringat menyebarkan Islam yang tercinta. Dan kepada mereka yang mengikut mereka itu dari semasa ke semasa hingga ke hari kiamat...

Ya Allah Ampuni kami, Rahmati Kami, Kasihani Kami ...Amin

Amma Ba'du,

Penentuan awal bulan Hijriyyah menjadi sangat beerti, terutama sekali bulan-bulan yang berkaitan dengan ibadah, semisal bulan Ramadhan untuk menjalankan ibadah puasa, bulan Syawal untuk merayakan Hari Raya 'Idul Fitri, serta Bulan Dzul Hijjah di mana terdapat tanggal yang berkaitan dengan perlaksanaan Haji dan Hari Raya 'Idul Adha.

Lebih jelasnya, agar tidak menjadi kesalahfahaman mengenai Penentuan awal Bulan Hijriyyah, baik bagi mereka yang berpedoman ru'yah mahupun Hisab, marilah kita semak akan pendapat-pendapat Ulamak r.anhum yang tertuang di dalam Kitab-Kitab.

Ketahuilah, bahawa Awal Ramadhan dan Syawal dan Bulan-Bulan Hijriyyah yang lain ditetapkan berdasarkan rukyatul Hilal atau istikmal (menyempurnakan 30 hari apabila tidak nampak anak bulan). Hal ini berdasarkan beberapa Hadis Sahih :

Sabda Rasulullah SAW : "Berpuasalah kalian kerana melihat anak bulan, dan berbukalah kerana melihat hilal. Maka jika tertutup awan bagimu, maka sempurnakanlah bilangan Sya'ban tiga puluh." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sabda Rasulullah SAW : " Janganlah kalian berpuasa sebelum melihat hilal, dan janganlah kalian berbuka (yakni keluar ramadhan dan masuk syawal..pent) sebelum melihatnya. Maka jika tertutup awan bagimu, maka perkirakanlah." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sabda Rasulullah SAW : :"Berpuasalah kerana melihat hilal, dan berbukalah kerana melihatnya. Maka jika tertutup awan, maka perkirakanlah ia tiga puluh." (H.R. Muslim)

Dari amir Makkah, Al-Harits ibn Hatib, ia berkata, "Kami dipesan oleh Rasulullah SAW supaya beribadah (puasa) kerana melihat (hilal). Maka jika kita tidak melihatnya sedang ada dua orang saksi yang adil bersaksi, maka kita beribadah (puasa) kerana persaksiannya itu." (H.R Abu Dawud dan Ad-Daruquthni, ia berkata bahawa isnadnya muttasil (bersambung) dan sahih."

Mari kita lihat pula pendapat para Ulamak r.anhum yang lebih memahami akan Hadis Nabi SAW daripada kita yang singkat ilmunya.

Di dalam Kitab Al-Fiqh alal Mazahibil Arba'ah (Fiqh 4 Mazhab), Juzuk 1, hal. 551 di sebut :

"Tidak perlu diperhatikan perkataan ahli astronomi. Maka tidak wajib bagi mereka berpuasa berdasarkan hisabnya, dan juga bagi orag yang mempercayai perkataannya, kerana pembuat syariat (Allah SWT) mengkaitkan (menggantungkan) puasa pada tanda yang tetap dan tidak berubah sama sekali, yaitu rukyatul hilal atau menyempurnakan bilangan tiga puluh hari."

Di dalam Kitab Majmu', Juzuk 6, hal. 269 , bagi Al-Imam Nawawi r.anhu, disebut:

"Tidak wajib puasa Ramadhan kecuali kerana ru'yatul hilal. Maka apabila hilal tertutup awan bagi mereka, maka mereka wajib menyempurnakan (istikmal) Sya'ban."

Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haythami r.anhu di dalam Kitab Besarnya, Tuhfah Al-Muhtaj, Juzuk 3, hal. 372, ada disebut:

"Wajib berpuasa Ramadhan kerana kesempurnaan bulan syawal tiga puluh hari atau ru'yatul hilal sesudah terbenam matahari tanpa perantara semacam cermin, sebagaimana jelas, pada malam tiga puluh sya'ban, berbeda dengan apabila hilal tidak kelihatan walaupun tertutup awan. "

Al-Imam Ramli r.anhu di dalam Kitab Besarnya, Nihayah Al-Muhtaj , Juzuk 3, hal. 147, disebut:

"Berpuasa itu wajib hanya kerana kesempurnaan Sya'ban tiga puluh hari atau ru'yatul hilal."

Dalam Syarah Sahih Muslim bagi Al-Imam Nawawi r.anhu , Juzuk 4, hal. 44 :

"Para Ulamak berselisih pendapat mengenai makna "faqdaruhu (perkiranlah ia)", segolongan ulamak berpendapat, "Makna dari Hadis di atas ...kira-kirakanlah keberaaan bulan sabit di balik awan itu." Termasuk dalam golongan ini adalah Al-Imam Ahmad ibn Hambal r.anhu yang memperbolehkan (memulai) puasa Ramadhan di saat malam harinya cuaca di semlimuti awan, sebagaimana keterangan yang akan aku tuturkan insyaAllah (Bermula kenyataan Imam Ahmad r.anhu ini ada perbahasan yang lebih mendalam di mana ringkas kata, Al-Imam Ahmad turut berpendapat dengan pendapat mayoritas Ulamak r.anhum, akan tetapi disebabkan perbahasannya agak panjang, tiada faqir masukkan di dalam note ini..pent).

Berkata Ibnu Syuraij dan segolongan Ulamak, termasuk antaranya Muthorrif bin Abdillah, Ibnu Qutaibah dan yang lainnya: "Makna dari hadis di atas adalah...kira-kirakan keberadaan bulan sabit dengan menggunakan ilmu hisab."

Sementara itu, Imam Malik, Imam Syafi'e, Imam Abu Hanifah dan Mayoritas Ulamak Salaf dan Khalaf r.anhum berpendapat : "Bahawa Makna dari Hadis di atas adalah...kira-kirakanlah hitungan bulan menjadi sempurna 30 hari."Tamat Syarah Sahih Muslim.

Berkata Imam Malik,Abu Hanifah, Asy-Syafi'e serta Mayoritas Ulamak Salaf dan Khalaf : Makna dari (Faqdaruhu) adalah kira-kirakanlah bilangan bulan itu genap 30 hari"...Mayoritas Ulamak r.anhum mengajukan argumentasinya, berupa riwayat-riwayat sahih yang telah kami tuturkan sebelumnya. Semuanya Sahih dan Sharih, yaitu berbunyi : "Fa akmilu 'iddata salasiina" (Maka sempurnakanlah bilangannya ke 30 hari). Riwayat ini menafsirkan pada riwayat yang berbunyi (Faqdaruhu) yang masih bersifat mutlak.

Berkata Mayoritas Ulamak r.anhum : "Barangsiapa menafsirkan dengan : kira-kirakanlah hilal itu di balik awan" maka ia menafikan riwayat-riwayat lain yang sahih dan sharih. Untuk itu, pendapatnya ditolak (Kaedah Menyebutkan bahawa Ijtihad terbatal apabila datang nas mengenainya..penulis)

Dan barangsiapa menfsiri dengan "kira-kirakanlah dengan ilmu hisab", maka pendapatnya juga ditolak kerana dalam riwayat Bukhari-Muslim, Rasulullah SAW bersabda : "Kami adalah umat yang tidak bisa membaca dan menulis,..tidak menghitung dan menulis penanggalan..Al-Hadith. Selain itu, seandainya semua orang dituntut untuk menghitung dengan hisab, sudah barang tentu yang demikian terasa berat. kerana yang bisa menguasai ilmu hisab hanyalah beberapa orang penduduk di kota-kota besar sahaja. Dengan demikian, yang benar adalah apa yang telah dikatakan oleh Mayoritas Ulamak di atas. Selain pendapat itu ditolak dengan berdasarkan hadith-hadith yang shohih.

Untuk akhirnya, marilah kita renungi perkataan Amirul Mukminin Fil Hadis Syaikh Al-Islam Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi'e Assya'ari r.anhu di dalam kitabnya yang terkenal sepanjang zaman, Fathul Bari Li Syarhi Sahih Bukhari, Juzuk 1, hal. 207 :

Berkata Imam Ibnu Hajar r.anhu dalam bab Sabda Nabi SAW , "Kami tidak dapat menulis dan tidak pula menghitung" yang teksnya sebagai berikut :

Yang dimaksud dengan hisab (menghitung) di sini ialah menghitung bintang-bintang dan peredarannya, sedang mereka belum mengetahui hal itu kecuali sebahagian kecil sekali (tambahan faqir, antara sahabat yang mengetahui ilmu hisab adalah Sayyidina Ibnu Abbas r.anhuma). Maka hukum berpuasa dan lain-lainnya dihubungkan dengan rukyah untuk menghilangkan kesempitan bagi mereka dalam upaya menghitung peredaran. Dan hukum puasa itu berlangsung terus walaupun sesudah mereka itu kemudian ada orang mengetahui hisab itu. Bahkan konteks perbicaraan tersebut nampaknya memberi pengertian bahawa hukum (puasa) sama sekali tidak dikaitkan dengan hisab. Ini dijelaskan oleh Sabda Nabi SAW dalam hadith di atas yaitu : "Jika tertutup awan bagi kamu, maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh." Baginda SAW tidak bersabda "Maka bertanyalah kepada ahli hisab". Tamat.

Wallahu Yahdi ila sawaissabil...

Selawat dan salam sebanyaknya semoga dilimpahkan Allah SWT ke atas junjungan besar kita Sayyidina Nabi Muhammad SAW. (Ya Allah Tempatkanlah Junjungan kami di tempat yang terpuji sepertimana yang Kau janjikan..Amin) Beserta para sahabat dan Ahlulbayt r.anhum yang sangat kasih mereka itu kepada umat ini.Segala puji hanya bagi Allah SWT, Tiada Daya Upaya melainkan Allah SWT.,

Dan Allah jua yang memberi petunjuk dan Allah SWT Maha Mengetahui..

Jazakallah Khairan Kathira...(^_^)

Al-Faqir wal Haqir indallah,

Salim Azham (MSA)

No comments:

Post a Comment

Post a Comment